PERISTIWA 

SASTRAWAN MELAWAN TEROR KEPALA BABI

JAKARTA (Litera) — Dukungan terhadap media Tempo, khususnya kepada jurnalis Fransisca Francisca Christy Rosana (Cica) dan tim siniar Bocor Alus, yang menjadi korban teror kepala babi dan 6 tikus dengan kepala dipotong, terus mengalir. Selain alumni, Tempo juga mendapat dukungan dari para seniman, Senin (24/3/2025).

Pernyataan sikap berjudul “Seniman Bersama Tempo” dibacakan oleh Ahmadun Yosi Herfanda di ruang redaksi  Tempo di bilangan Palmerah Jakarta Selatan, bersama puluhan seniman lainnya. Kehadiran para seniman diterima Wakil Pemred Tempo Bagja Hidayat.

 

“Pers adalah salah satu pilar demokrasi. Maka segala bentuk gangguan terhadap pers harus dilawan karena menjadi ancaman terhadap demokrasi,” ujar Ahmadun, penyair senior yang pernah mendapat Anugerah Penyair Nusantara 2015 sekaligus mantan redaktur budaya Republika.

 

Ahmadun melanjutkan, bagi kami – para sastrawan, seniman, penulis, pelaku sastra, dan penggiat budaya —  pers adalah entitas yang memberi ruang dan mendukung ekspresi kreatif. Pembungkaman kebebasan kreatif terhadap pers berarti membunuh ruang ekspresi kreatif.

 

“Kami mengutuk segala gangguan terhadap kebebasan pers. Kami mengecam teror kepala babi kepada Tempo. Kekerasan semacam itu tidak boleh dibiarkan dan harus dilawan,” tegas Ahmadun seraya menambahkan seruan itu didukung 264 seniman, termasuk dari luar negeri.

 

Menanggapi hal itu, Bagja Hidayat mengatakan dukungan yang diberikan berbagai elemen masyarakat termasuk para seniman, membuktikan Tempo tidak sendirian.

 

“Kami tidak tahu maksud peneror mengirim kepala babi dan kemudian tikus yang kepalanya sudah dipotong dengan sangat rapi. Kami sempat menerima pesan bahwa kami dianggap budeg (tuli). Rupanya itu pesan di balik kepala babi yang terpotong telinganya. Kemudian terkait tikus yang kepalanya terpotong, sepertinya merujuk pada jumlah kru Bocor Alus,” ujar Bagja.

 

Bagja menambahkan, budeg yang dimaksud pengirim pesan kemungkinan berkaitan keinginan Presiden Prabowo Subianto tentang media yang “asyik”. “Tapi kok (sama) Cica masih dibikin jelas. Seharusnya Cica soft,” canda Bagja.

 

Terhadap teror yang ada, Bagja menegaskan wartawan Tempo tidak takut, dan tetap menjalankan tugas jurnalistik secara bertanggung jawab. “Sebab jika Tempo (menjadi) takut, media lain juga takut, maka berbagai persoalan bangsa akan selalu ditutupi kegelapan karena tidak pernah diungkap secara terang,” kata Bagja.

 

Acara dukungan seniman terhadap Tempo dibuka dengan tarian oleh Indonesiana Putri Wicaksono, dan juga diisi testimoni oleh Zulfikar Albar, Ireng Halimun, dan Mayumi – advokat yang concern pada isu-isu perempuan, serta pembacaan puisi antara lain oleh Kurnia Effendi dan Willy Ana. Cica yang hadir bersama host Bocor Alus Stefanus Pramono, juga sempat membacakan puisi yang belum diberi judul.

 

“Saat kuliah di Sastra Indonesia UGM, saya diberitahu bahwa dulu jika mahasiswa ingin membaca buku-buku karya Pramudya Ananta Toer harus sembunyi-sembunyi karena ketatnya sensor Orde Baru. Nah, setelah mendapat teror kepala babi, banyak juga yang tanya kepada saya, apakah kita akan kembali ke masa Orde Baru? Mungkin saja bisa, tetapi kita semua tidak akan membiarkan. Terlebih saat ini banyak media, termasuk media sosial, untuk melakukan perlawanan,” ujar Cica.

 

Di balik teror itu, Cica merasa ada semacam blessing in disguise yakni bisa menyatukan suara masyarakat sipil. “Oleh karenanya saya berterima kasih terhadap semua dukungan yang diberikan, baik secara langsung maupun melalui media sosial,” kata Cica.   @ yon/red/pojoktim.com

 

Related posts

Leave a Comment

three × 1 =